Kamis, 05 Agustus 2010

Bukan sekedar Film




Sebuah Inspirasi dari Film

“ Perempuan Punya Cerita “

Kita harus selektif dalam memilih tontonan, khususnya film-film Lokal kita yang banyak sekali menyuguhkan film yang ceritanya banyak tidak berisi dan porno, bahkan tidak jarang setelah kita menonton cerita tersebut tidak ada makna yang kita ambil. Tapi ada satu film yang menurut saya sangat sesuai dengan realita hidup. Film tersebut adalah film “ Perempuan Punya Cerita” dimana ada segmen “Cerita Cibinong”.

Dalam film itu diceritakan seorang wanita bernama Esi (Shanty) dan ambisinya yang sederhana. Sebagai seorang petugas cleaning service di bar tepi jalan di Cibinong, ia hanya berharap anaknya bersekolah dengan baik dan tak mengulangi nasib menyapu di bar murahan macam itu. Mungkin Esi ingin jadi penyanyi, tapi ia tahu diri. Maka dari jauh saja ia mengagumi Cicih (Sarah Sechan), primadona yang sudah mulai memudar, tapi dengan gravitasi yang masih besar. Salut untuk Sarah Sechan untuk ini.

Dan ketika godaan itu datang, Esi dengan mudah mengelak. Ia sadar bahwa mimpi yang dijual para lelaki yang datang ke bar itu adalah tipuan. Apalagi kalau soalnya sudah melibatkan Maesaroh, masa depan Esi. Namun Cicih yang seharusnya lebih paham soal macam ini, ternyata tertipu –dan cicih termakan oleh iming-iming impian menjadi seorang penyanyi terkenal oleh seorang pria pembohong yang katanya akan mengorbitkan dirinya. Maka ketika akhirnya Cicih mengajak Maisaroh (Ken Nala Amyrtha)untuk diajak kejakarta untuk ikut bersamanya ternyata Maesaroh dijual oleh laki-laki yang katanya akan membuat Cicih terkenal. Maesaroh yang ketika itu berumur 14 tahun tidak mengerti akan hidup dan dia dijual ke Malaysia dan dinikahi oleh seorang Cukong gendut berumur 52 tahun. Sungguh tragis memang hidup ini. Tapi tidak dapat dipungkiri hal seperti itu banyak sekali terjadi.Toh kita paham bahwa masalah bernama trafficking yang mereka hadapi mungkin jauh lebih pahit dari yang bisa digambarkan dalam film ini.


Masalah trafficking merupakan dilema gunung es yang susah sekali dipecahkan. Tidak ada pihak yang dengan sungguh-sungguh serius menanganinya. Sungguh miris rasanya jika kita menonton film yang cerita nya memang terjadi dikehidupan nyata. Dan jujur hati saya terasa sakit saat menonton film yang sejujurnya saya tidak sengaja beli ketika saya lewat diantara penjual dvd dipasar. Tp banyak yang saya peroleh setelah menonton film ini, semoga pembaca yang menyimak resensi saya ini juga meresakan apa yang saya rasakan.

"Jika kita perduli pada orang lain percayalah orang lain akan menoleh pada kita ketika kita membutuhkan uluran tangan"


1 komentar:

  1. Hum ... Bagus, ditambah variasi kata yang mencerminkan emosi penulis akan lebih menarik lagi
    Sukses
    AndiHM

    BalasHapus